RUH ORANG YANG SUDAH MATI BISA BERJUMPA DI DALAM MIMPI


Bismillahi washolatu ala Rasulillah

Oleh : Ibnu Nasar

Di antara kita adakah yang pernah memimpikan keluarga atau teman yang telah meninggal,setelah terbangun dari tidur, kita bertanya-tanya benarkah yang kita jumpai dalam mimpi adalah arwah keluarga kita??

Ibnu Qoyyim Rahimahullah menjelaskan dalam kitab al-Ruh, ditemukan banyak pendapat ulama yang mengatakan bahwa bisa saja ruh orang yang masih hidup berjumpa dengan ruh orang yang telah meninggal dalam mimpi. Bedanya setelah terbangun, Ruh orang hidup Dikembali ktubuhnya.sedangkan Ruh orang yang sudah meninggal di Tahan,.

Namun perkara ghaib tersebut tidak bisa dipastikan, karna hanya Allah saja yang mengetahuinya dan ilmu mengenai ruh sedikit. Sebagaimana dikatakan dalam Al-Qur'an.

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ ۖ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا


Artinya; Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: “Ruh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”.(QS. al-Isra; 85)

Ada sebuah Hadits yang pernah menjelaskan tentang ruh, bahwa mereka bisa saja saling bertemu. Baik ruh orang hidup dgn orang meninggal, atau sesama ruh orang hidup yang sama-sama sedang tidur. Dalam riwayat Muslim disebutkan bahwasanya Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

الأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اخْتَلَفَ

“Ruh-ruh itu berkelompok. Mereka yang cocok akan berkumpul, dan yang tidak cocok akan berselisih” (HR. Bukhari & Muslim)

Berdasarkan Hadits ini, Ibnu Qayyim Rahimahullah  mengatakan bahwa bisa saja perkara tersebut terjadi, bertemu nya Ruh orang yang telah meninggal dalam mimpi…..

Namun  perlu diingat bahwasanya mimpi itu bermacam-macam. Bisa saja mimpi itu benar,atau malah sebaliknya hasil dari rekayasa syaithon untuk memperdaya manusia, bisa juga karna kondisi kejiwaan sesorang yang baru saja ditinggal mati orang terdekatnya sehingga kesedihan tersebut terbawa dalam mimpi.

Berikut keterangan orang yang masih hidup bisa saja bertemu dgn Orang yang sudah meninggal lewat mimpi.

Tafsir Ibnu Katsir

Dalam ayat ini disebutkan dua kematian, yaitu kematian kecil, kemudian kematian besar. Sedang dalam surat Az-Zumar disebutkan sebaliknya, yaitu pada mulanya disebut kematian besar, kemudian kematian kecil, melalui firman-Nya:


{اللَّهُ يَتَوَفَّى الأنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَى عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الأخْرَى إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى}


Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahan jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. (Az-Zumar: 42)

Di dalam makna ayat ini terkandung dalil yang menunjukkan bahwa semua roh dikumpulkan di mala-ul a'la, seperti yang disebutkan di dalam hadis marfu' yang diriwayatkan oleh Ibnu Mandah dan lain-lainnya. Di dalam kitab Sahih Bukhari dan Sahih Muslim disebutkan melalui hadis Ubaidillah ibnu Umar, dari Sa'id ibnu Abu Sa'id, dari ayahnya, dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu yang telah mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam pernah bersabda:


“إِذَا أَوَى أَحَدُكُمْ إِلَى فِرَاشِهِ فلْينْفُضْه بِدَاخِلَةِ إِزَارِهِ، فَإِنَّهُ لَا يَدْرِي مَا خَلَفَهُ عَلَيْهِ، ثُمَّ لِيَقُلْ: بِاسْمِكَ رَبِّي وَضَعْتُ جَنْبِي، وَبِكَ أَرْفَعُهُ، إِنْ أَمْسَكْتَ نَفْسِي فَارْحَمْهَا، وَإِنْ أَرْسَلْتَهَا فَاحْفَظْهَا بِمَا تَحْفَظُ بِهِ عِبَادَكَ الصَّالِحِينَ”


Apabila seseorang di antara kalian menempati peraduannya, hendaklah terlebih dahulu menyapu tempat tidurnya dengan bagian dalam kainnya, karena sesungguhnya dia tidak mengetahui kotoran apa yang telah ditinggalkannya pada peraduannya itu. Kemudian hendaklah ia mengucapkan doa, “Dengan menyebut nama Engkau, ya Tuhanku, aku letakkan lambungku dan dengan menyebut nama Engkau aku mengangkat (membangunkan)nyaJika Engkau memegang jiwaku, maka kasihanilah ia; dan jika Engkau melepaskannya, maka peliharalah ia sebagaimana Engkau memelihara hamba-hamba-Mu yang saleh.


Sebagian ulama Salaf mengatakan bahwa arwah orang-orang yang mati dicabut bila mereka mati, begitu pula arwah orang-orang yang hidup dicabut bila mereka tidur, lalu mereka saling kenal menurut apa yang telah dikehendaki oleh Allah Swt.


{فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَى عَلَيْهَا الْمَوْتَ}


maka Dia tahan jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya. (Az-Zumar: 42)


Yakni arwah orang yang telah mati dan melepaskan arwah orang yang hidup sampai waktu yang ditentukan. As-Saddi mengatakan sampai tiba saat ajalnya.


Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu mengatakan bahwa Allah menahan jiwa orang yang telah mati dan melepaskan jiwa orang yang hidup, dan tidak pernah terjadi kekeliruan dalam hal ini.


{إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ}


Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir. (Az-Zumar: 42)

Ruh orang yang meninggal bisa saja berjumpa dengan Ruh orang yang Masih hidup keterangan oleh para Ulama.

Diriwayatkan dari Said bin Jubair, dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, beliau menjelaskan tafsir ayat tersebut, "Sesungguhnya roh orang yang hidup dan roh orang mati bertemu dalam mimpi. Mereka saling mengenal sesuai yang Allah kehendaki. Ketika masing-masing hendak kembali ke jasadnya, Allah menahan roh orang yang sudah mati di sisi-Nya, dan Allah melepaskan roh orang yang masih hidup ke jasadnya.” (Tafsir At-Thabari 21/298, Al-Qurthubi 15/260, An-Nasafi 4/56, Zadul Masir Ibnul Jauzi 4/20, dan beberapa tafsir lainnya).

Kejadian ini pernah dialami seorang sahabat yang dijamin masuk surga karena kerendahan hatinya. Beliaulah sahabat Tsabit bin Qois radhiyallahu anhu. Peristiwa ini terjadi ketika perang Yamamah, menyerang nabi palsu Musailamah Al-Kadzab di zaman Abu Bakr. Dalam peperangan itu, Tsabit termasuk sahabat yang mati syahid. Ketika itu, Tsabit memakai baju besi yang cukup bernilai harganya.

Sampai akhirnya lewatlah seseorang dan menemukan jasad Tsabit. Orang ini mengambil baju besi Tsabit dan membawanya pulang. Setelah peristiwa ini, ada salah seorang mukmin bermimpi, dia didatangi Tsabin bin Qois. Tsabit berpesan kepada si Mukmin dalam mimpi itu : “Saya wasiatkan kepada kamu, dan jangan kamu katakan, Ini hanya mimpi kalut kemudian kamu tidak mempedulikannya. Ketika saya mati, ada seseorang yang melewati jenazahku dan mengambil baju besiku. Tinggalnya di paling pojok sana. Di kemahnya ada kuda yang dia gunakan membantu kegiatannya. Dia meletakkan wadah di atas baju besiku, dan diatasnya ada pelana. Datangi Khalid bin Walid, minta beliau untuk menugaskan orang agar mengambil baju besiku. Dan jika kamu bertemu Khalifah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam (yaitu Abu Bakr), sampaikan bahwa saya punya tanggungan utang sekian dan punya piutang macet sekian. Sementara budakku fulan, statusnya merdeka. Sekali lagi jangan kamu katakan, Ini hanya mimpi kalut kemudian kamu tidak memedulikannya.”

Setelah bangun, orang inipun menemui Khalid bin Walid radhiyallahu anhu dan menyampaikan kisah mimpinya bertemu Tsabit. Sang panglima, Khalid bin Walid mengutus beberapa orang untuk mengambil baju besi itu, dia memperhatikan kemah yang paling ujung, ternyata ada seekor kuda yang disiapkan. Mereka melihat isi kemah, ternyata tidak ada orangnya. Merekapun masuk, dan langsung menggeser pelana. Ternyata di bawahnya ada wadah. Kemudian mereka mengangkat wadah itu, ketemulah baju besi itu. Merekapun membawa baju besi itu menghadap Khalid bin Walid.

Setelah sampai Madinah, orang itu penyampaikan mimpinya kepada Khalifah Abu Bakr As-Shiddiq radhiyallahu anhu, dan beliau membolehkan untuk melaksanakan wasiat Tsabit. Para sahabat mengatakan, “Kami tidak pernah mengetahui ada seorangpun yang wasiatnya dilaksanakan, padahal baru disampaikan setelah orangnya meninggal, selain wasiat Tsabit bin Qais.” (HR. Al-Baihaqi dalam Dalail An-Nubuwah 2638 dan Al-Bushiri dalam Al-Ittihaf 3010)

Wallahu a'lam

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sholat itu Harus dapat Mencegah Dua Perbuatan

Bergembiralah,Jika engkau ditakdirkan Hidup Miskin,Maka Bersabarlah Menjalaninya

Ciri Khas Ahlussunah Sunnah